Tokyo Marathon 2017 & Gempita Pelari Indonesia

By. Planet Sports RUN 01 March 2018
Tokyo Marathon 2017 & Gempita Pelari Indonesia

Foto dokumentasi Geoffrey Dermawan (IG @gdermawan)

Cerita perjalanan menamatkan 42,195 kilometer yang penuh perjuangan dan kebahagiaan.

Perhelatan akbar maraton utama dunia Tokyo Marathon 2017 sudah usai. Menyisakan keriuhan di media sosial maupun antara sesama pelari. Banyak pelari Indonesia yang mengikutinya. Berikut beberapa kisah mereka: 

Geoffrey Dermawan & Pesona Major Marathon.

Tokyo Marathon 2017 adalah full marathon ketiga dan world major marathon pertama saya. Pesertanya lebih banyak daripada dua maraton terdahulu saya, yaitu Melbourne dan Gold Coast. Saya sudah siap di start batch saya sejak pukul 8, meski mulainya pukul 9. Artinya saya menunggu satu jam dalam kondisi cuaca 4-6 derajat Celcius. Dingin! Peserta lain mengenakan jaket yang akan mereka buang setelah start, sedangkan saya hanya mengenakan pakaian lari yaitu baju tipis lengan panjang, base layer celana panjang, dan celana pendek. Terus terang saya kurang mengantisipasi hal ini.

Tokyo Marathon tampaknya dekat dengan hati orang Indonesia karena saya menjumpai banyak orang Indonesia. Saya tinggal di Malang; Baju yang saya pakai ada tulisan ‘Malang’ di bagian depan dan bendera Indonesia di bagian lengan. Akibatnya, banyak banget yang menyapa. Sebagai pelari yang berangkat sendiri, saya senang bertemu teman baru sebangsa, bahkan hingga 10 orang. 

Begitu start dimulai, saya menikmati suasana race yang meriah. Selain tertata sangat rapi, masyarakat Tokyo juga antusias memberi semangat. Ada anak muda cheerleader, orang tua yang menari dengan koreografi tertentu, hingga orang yang menawarkan pain killer spray. Yang terakhir ini saya manfaatkan di kilometer (km) 35 saat paha mulai fatigue. Namun secara keseluruhan, saya tidak mengalami masalah yang berarti. Saya benar-benar enjoy lari di Tokyo Maratahon, sehingga meski tidak meraih personal best, saya senang sekali bisa merasakan world major marathon di Tokyo.

 

Dimas Seto & Strategi Cedera Plantar

Aku berhasil meraih personal best (PB) dengan waktu 4:24, lebih cepat hampir 30 menit dari waktuku di Bali Marathon 2016 dengan waktu 4:52

Namun, ini bukan tanpa perjuangan keras. Dari sebelum berangkat, aku sudah mengalami masalah pada bagian plantar. Karena itu, pada ahli yang tergabung dalam Pocari Sweat Sport Science menggemblengku dengan latihan-latihan yang menunjang kekuatan otot plantar. Selain itu, head coach juga membekaliku dengan strategi pace. Aku diminta lari lebih lambat di kilometer awal dibanding di selanjutnya. Jadi aku lari dengan pace 6:20 di km 1-15, kemudian pace 5:55 di km 15-25. Hasilnya, sakit plantar-ku berkurang. Namun, cedera lain muncul.

Cedera ini muncul karena kesalahan pemilihan kaos kaki. Aku memilih kaos kaki yang aku kenakan saat Bali Marathon, dengan harapan bisa mengantarku meraih PB. Berhasil, sih. Tapi sayangnya kaos kaki itu agak keras karena tampaknya dijemur di bawah sinar matahari langsung. Akibatnya terjadi gesekan di kaki bagian depan. Makin lama makin parah hingga melepuh dan menggelembung. Dan ini terjadi mulai km 25/ 30, di saat –sayangnya–kondisi badan sudah enak untuk lari. Aku coba pindah tumpuan kaki ke tumit tapi sakit karena kena plantar. Tapi kalau pakai bagian depan juga sakit. Serba salah. Apa boleh buat, aku harus berdamai dengan situasi ini. Hanya dengan semangat dan kekuatan doalah, aku berhasil menyelesaikan race. Bahkan, berhasil mempertahankan lari di pace 6:30. Untuk ini, aku bersyukur sekali.

 

 

Lihat Koleksi Lengkap →

 

Lihat Koleksi Lengkap →