Eliud Kipchoge dan Rekor Maraton dengan Sepatu Lari Ber-Carbon Fiber Plate

Pada Berlin Marathon 2018, Eliud Kipchoge menorehkan rekor dunia dalam waktu 2:01:39. Pada London Marathon 2019, catatan waktunya yang 2:02:37 adalah yang tercepat kedua di dunia. Apa rahasia sepatu lari yang dipakainya? 

Berlin Marathon 2018
Berlin Marathon 16 September 2018 menjadi momen bersejarah dalam dunia lari maraton. Eliud Kipchoge (kebangsaan Kenya) memecahkan rekor dunia dengan waktu resmi 2:01:39. Memangkas waktu sebanyak 1 menit dan 18 detik dari rekor sebelumnya, Eliud berlari dengan sepatu Nike Vaporfly 4%.

Fitur utama yang banyak dibahas pada sepatu tersebut adalah pelat serat karbonnya. (carbon fibre plate). Pelat ini berada di dalam sepatu, memanjang dari tumit hingga ujung kaki dan berfungsi untuk mendorong pergerakan kaki ke depan dengan lebih efisien.

Kalau kamu bingung, bayangkan papan jungkat-jungkit mainan anak-anak di taman bermain; ketika satu sisi diduduki, sisi lainnya akan terlontar ke udara, tanpa membuat papannya tertekuk di bagian tengah. Cara kerja pelat serat karbon juga kurang lebih seperti itu; saat kamu mendarat dan menggulirkan kaki ke depan, pelatnya akan mendorong pergerakan kaki dengan lebih efisien –tingkat efisien yang diklaim dapat menghemat energi hingga 4%.

London Marathon 2019
Fast forward to 2019. Pada London Marathon 28 April 2019, Eliud kembali bertanding mempertahankan gelar juaranya. Di hadapan publik Inggris, ia mencatatkan waktu 2:02:37 –waktu maraton tercepat kedua di dunia– dan mempertahankan gelar juara –empat kali berturut-turut. Kali ini ia memakai sepatu Nike generasi lanjutan Vaporfly 4% yaitu ZoomX Vaporfly Next%.

Seperti pendahulunya, sepatu ini juga berteknologi pelat serat karbon. Bedanya, menurut ulasan di wired.com, pelatnya berkerja dengan cara meningkatkan mekanisme pergelangan kaki pelari yaitu dengan menstabilkan persendian dan mengurangi beban pada betis. Pelat yang kaku tersebut membuat jari-jari kaki pelari bisa tetap lurus (straight), sehingga lebih bisa menyimpan energi dibandingkan saat kita menekuknya (flexing). Mungkin sulit diterima bahwa menekuk jari kaki saja bisa memboroskan energi.

Well, masih menurut wired.com, disinyalir busa midsole-nya punya peran lebih besar dalam menghemat energi dibandingkan pelatnya. Busa inilah yang tahan uji, kenyal, dan mudah memantul. Kemampuan ini membuat busanya mampu menyerap dan melakukan pengembalian energi dengan lebih tinggi.

Rekor dunia dan catatan waktu tercepat kedua di dunia yang ditorehkan Eliud membuat sepatu berteknologi pelat serat karbon jadi pembahasan pelari di mana-mana. Trend sepatu pelat serat karbon, yang sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1980an (Reebok adalah merek pertama yang menggunakannya, menurut wired.com) kembali muncul. Menurutmu, akankah trend ini diikuti merek sepatu lain, sebut saja Hoka One One, Skechers, atau bahkan Reebok lagi?